Wednesday, September 28, 2016

Perempuan Pemeluk Rembulan



Lintang, wanita cantik itu, adalah seorang penulis yang puitik dan pecinta yang baik tetapi wanita yang tolol. Ia adalah seorang penulis yang puitik dan pecinta yang baik tetapi wanita yang tolol yang menyukai novel-novel sedih Gabriel Garcia Marquez. Ia adalah seorang penulis yang puitik dan pecinta yang baik tetapi wanita yang tolol yang menyukai novel-novel sedih Gabriel Garcia Marquez dan menggilai tembang-tembang Britpop sembilan puluhan. 

    ***

Lintang, wanita cantik itu, baru saja menyelesaikan permainan cinta yang hebat. Sungguh hebat. Teramat hebat. Seakan tiada lagi yang lebih hebat. Berpelukan dan melenguh, dan berciuman dan melenguh, kemudian saling meraba dan melenguh, lantas menghujam dan melenguh, dan menindih dan melenguh, diakhiri dengan melenguh dan melenguh. Lelaki itu tak pernah tak berhasil memuaskannya, atau paling tidak membuatnya begitu bahagia. Lelaki itu tak pernah tak berhasil memuaskannya, atau paling tidak membuatnya begitu bahagia dengan membiarkannya merasa menjadi wanita paling dicinta di muka dunia, dan luar angkasa.

Lintang, wanita cantik itu, masih merasakan sedikit ngilu di pangkal pahanya saat mendapati lelaki itu beranjak mengambil pemantik api yang diletakkan di samping kiri telepon genggam yang bergetar tak kunjung henti.

“Mengapa tak kau angkat?”

“Bisa menunggu,” jawab lelaki itu sambil menyalakan pemantik api yang telah digenggamnya sedari tadi. Ia tersenyum sambil mengamati asap rokok yang membumbung tak begitu tinggi.

Lintang, wanita cantik itu, gemar membicarakan apa saja setelah bermain cinta. Ia akan membicarakan negeri-negeri yang jauh dan benua-benua yang berbeda. Ia akan membicarakan tentang gunung dan danau dan lembah dan senja dan whiskey dan vodka dan cuaca yang cerah dan suasana yang lain. Ia akan membicarakan mengenai ragam rupa kosmetik dan konstelasi politik dan perkembangan ekonomi dan harga sekilo cabai di pasar pagi hari ini. Ia akan membicarakan revolusi dan sinetron dan perjuangan dan drama, dan darah dan air mata. Bersama lelaki itu ia akan membicarakan segala-galanya.

Lintang, wanita cantik itu, gemar membicarakan apa saja setelah bermain cinta. Ia akan membicarakan mengenai film yang ia tonton tadi sore, bersama lelaki itu, dan buku yang ia pinjam kemarin malam, dari lelaki yang sama. Ia akan membicarakan gosip-gosip artis murahan dan diskon-diskon di pusat perbelanjaan dan nihilisme Nietzschean dan fasisme yang sedang bergelora dan lahirnya bayi-bayi Orba dan materialisme dialektika, dan anak tetangga yang sedang lucu-lucunya. Ia akan membicarakan es krim dengan topping kacang mede dan saus bluberi hingga Ernest Hemingway dan The Old Man and The Sea.

Ia akan bertanya tentang karya-karya Kurt Vonnegut.

“Lucu,” jawab lelaki itu.

Juga tentang cerpen-cerpen Guy de Maupassant.

“Sinis dan ringkas,” ujar lelaki itu lugas.

Lalu tentang The Brothers Karamazov dan Fyodor Dostoevsky.

"Magnum opus maestro penggila judi."

Kemudian tentang Thom Yorke dan Radiohead.

“Murung, gelap, dan suram.”

Lantas mereka berdua akan tertawa dan kembali berciuman, dalam-dalam.

                                                        ***

Lintang, wanita cantik itu, sedang merapikan rambutnya yang ikal bergelombang seperti lautan dan blonde seperti senja puluh lima sore saat telepon genggam itu bergetar kembali, untuk yang ketiga belas kali. Lelaki itu beranjak dari ranjang yang berantakan oleh birahi yang menerjang di saat badai cinta sudah jauh tertinggal di belakang.  Ia, lelaki itu, berdiri di tepian jendela saat menyimak lawan bicaranya di seberang sana. Dua menit tiga belas detik. Itu saja. Kemudian kata-kata yang tak benar-benar manis dan basa-basi yang tak betul-betul tulus mengakhiri sambungan telepon mereka berdua.

“Jadi?” tanya Lintang mengenai pembicaraan lelaki itu dengan lawan bicaranya di seberang sana.

Malam hampir-hampir lingsir. Rembulan akan tenggelam pelan-pelan.

Lelaki itu menjawab tanpa sedikitpun mengedipkan matanya yang menatap kosong ke luar jendela, “Aku akan menikahinya.”

                                                       ***
Lintang, wanita cantik itu, adalah seorang penulis yang puitik dan pecinta yang baik tetapi wanita yang tolol. Ia adalah seorang penulis yang puitik dan pecinta yang baik tetapi wanita yang tolol yang menyukai novel-novel sedih Gabriel Garcia Marquez. Ia adalah seorang penulis yang puitik dan pencinta yang baik tetapi wanita yang tolol yang menyukai novel-novel sedih Gabriel Garcia Marquez dan menggilai tembang-tembang  Britpop sembilan puluhan. Ia adalah seorang penulis yang puitik dan pencinta yang baik tetapi wanita yang tolol yang menyukai novel-novel sedih Gabriel Garcia Marquez dan menggilai tembang-tembang  Britpop sembilan puluhan, dan mengakhiri malam itu dengan memeluk rembulan yang meninggalkannya pelan-pelan.

Saturday, June 11, 2016

Tenggat Waktu

Tengah tahun tak semestinya jadi musim penghujan, apalagi hujan yang lama dan panjang dan awet,  lebih awet dari kisah kasih cinta monyet. Air tak henti hentinya menetes dari langit dari ujung daun dari genting dari talang rumah tetangga yang sudah dua bulan lamanya tak kau sapa. Langit tak bosan bosan berawan mendung, persis seperti air muka yang nampak selalu murung.

Kisah kasih-kasihan yang karam akan mengajarkanmu bahwa untuk menjadi murung bukanlah perihal yang sulit-sulit benar. Akan ada sepetak ruang yang hanya bisa kau buka saat punya sekodi rasa berani dan sekepal rasa tegar. Mungkin kemarin, nanti, esok, tak akan pernah, atau entah. Terakhir kali saat kau buka tempo hari ruang itu masih saja penuh irisan-irisan kenangan, ah ruam-ruam yang belum juga mengering.

Sisa hujan menetes di sisa malam yang semakin kuyup semakin dingin semakin berat dan tersisa hanya sepertiganya saja. Air yang mengalir deras di kanal tengah kota akan menghanyutkan apa saja, kecuali sisa-sisa luka. Anjing melolong lantang, dan panjang, saat jangkrik merintih lirih, dan pelan, seperti puncak main cinta yang tertahan.

Tapi hidup adalah perihal memberi, menerima, dan merelakan pergi yang ada dan yang pernah ada. Diantara ketiganya merelakan pergi adalah urusan yang tak pernah mudah, pun begitu dengan mengaku salah, dan mengaku kalah. Tapi oh sayang, bukankah kebenaran tak pernah hadir dalam rupa yang telanjang? Maka kenyataan adalah barisan kesalahan dan kekalahan dan kepahitan, dan kepura-puraan, yang harus bulat-bulat ditelan atau ditenggak pelan-pelan.

Di ujung malam genangan ciptaan hujan memantulkan cahaya tapi kenangan adalah musuh raksasa yang bisa tiba semaunya saja. Kau menengadah berharap menatap langit dan awan dan sedikit bintang, tapi yang nampak hanyalah kelambu yang remang-remang dan kelabu yang bergoyang-goyang. Sendu menelungkupi kota dan apa saja dan air mukamu dan sepetak ruang itu. Angin subuh pergi dan datang kembali tanpa permisi menembus jendela, memporak porandakan sepetak ruangmu tanpa sisa, lantas membasuh relung hati manusia-manusia yang sedang kecewa.

Ayam berkokok. Adzan berkumandang. Lampu teras dimatikan. Malam mulai turun, harapan musti mulai naik.